Backpaking di Kamboja 1 (Phnom Penh)

Backpaking di Kamboja 1 (Phnom Penh)
Bus Antar Negara Ho Chi Minh City / Saigon – Phnom Penh
Perjalanan saya di Kamboja meliputi Phnom Penh dan Siam Reap. Berhubung kota tempat saya singgah sebelum Kamboja adalah Ho Chi Minh (Vietnam), saya putuskan untuk naik bus ke Kamboja (Phnom Penh) karena murah dan perjalanannya nggak lama-lama amat. Lama perjalanan sekitar 6 jam termasuk berhenti di imigrasi untuk cap paspor dan istirahat makan.
Cara Reservasi Bus
Di Ho Chi Minh City ada jalan yang namanya Jalan Pham Ngu Lao. Jalan ini terkenal di antara backpacker dan turis asing karena banyak guest house murah dan bar tempat ngumpul para traveler. Di jalan ini juga banyak biro travel. Nah kantor bus yang saya pakai untuk ke Phnom Penh kantornya juga di daerah ini.
Ada beberapa perusahaan bus yang bisa dipilih. Karena pada dasarnya saya lumayan males ngabisin waktu untuk research pilih akomodasi, saya langsung booking kursi bus dari perusahaan yang punya reputasi cukup bagus di trip advisor dan kalau di google keluarnya pas halaman pertama he..he..
Bus yang saya naiki ber-ac dan ada wifi gratis selama perjalanan (walaupun pas udah lewat perbatasan Kamboja wi-fi nya gak jalan sama sekali). Tapi yang paling penting dan harus diinget adalah, ada beberapa perusahaan bus yang mengharuskan kita untuk ganti / oper bus pas di perbatasan Kamboja – Vietnam. Jadi kita harus bawa semua barang bawaan. Bus yang saya naiki untungnya nggak mengharuskan kita oper, dan itu emang yang mereka gembor-gemborkan.
Bus yang saya naiki namanya SAPACO bus, harga tiketnya sekitar 230,000 Dong (rate pada saat ini kalau di rupiahkan adalah sekitar Rp 120,000) Lumayan murah kan, kayak bus antar provinsi di Jawa. Kalau mau informasi lebih detail mengenai bus SAPACO bisa coba buka link ini. Jangan lupa untuk booking dulu ya, karena jadual bus nya udah pasti per hari dan kadang-kadang suka penuh banget.

Selama Perjalanan dari Vietnam ke Kamboja
Saya naik bus yang jam 12:00, jadi diperkirakan sampai di Phnom Penh sekitar jam 18:00. Perjalanan cukup lancar. Kita berhenti di imigrasi sekitar 15 menitan untuk cap paspor lalu langsung balik ke bus. Nggak jauh dari perbatasan, bus berhenti lagi untuk istirahat makan siang (makan sore sih lebih tepatnya). Tempat istirahat nya ya semacam rumah makan yang mirip kaya rumah makan pinggir jalan antar provinsi di sepanjang Jawa. Jalanan lumayan lancar dan bebas hambatan sampai dengan masuk Phnom Penh. Begitu udah masuk kota bus mandeg karena macet. Kalau di bandingin dengan kota-kota besar di Indonesia, Phnom Penh nggak terlalu besar, tapi macet-nya sama-sama ngeselin. Begitu sampai di tempat pemberhentian, yang mana jalanan biasa (bukan terminal) depan kantor bus SAPACO cabang Phnom Penh, saya turun dan langsung cari tuk-tuk (semacam becak ditarik pakai motor). Di sebelah kantor SAPACO ada atm, jadi kalau lupa nggak nukarin duit bisa ambil cash dari ATM. Perlu diingat kalau di Kamboja dolar Amerika bisa dipakai. ATM tempat saya narik duit pun ngeluarinnya dolar Amerika. Sepanjang yang saya dengar, kalau transaksi besar biasanya pakai dolar amerika, cuma untuk beli barang-barang kecil bisa pakai mata uang lokal.

Tempat menginap di Phnom Penh
Hotel, guest house dan hostel tempat para traveler menginap biasanya berada di sekitar water front dan royal palace. Jadi saran saya kalu cari penginapan lebih baik menginap di dekat daerah ini. Di sekitar daerah ini banyak restoran, kafe, tempat kongkow-kongkow jadi gampang cari makan dan hiburan. Sebenarnya kali ini di Phnom Penh saya nggak tinggal di daerah royal palace ini, tapi di suatu daerah antah berantah yang di sekitar nya nggak ada apa-apa. Kenapa bisa begitu? Karena saya bandel milih cari tempat menginap di airbnb. Bukan ngejelekin airbnb sih, saya sebelumnya udah sering pake situs ini buat cari akomodasi murah di berbagai macam tempat, cuma lihat sikon juga kali ya. Kalau di kota kaya Tokyo atau Seoul yang gampang transportasi-nya boleh lah kita pakai airbnb, cuma untuk Phnom Penh saran saya nginep di daerah yang rame aja. Selain itu tujuan saya nginep di akomodasi privat via airbnb adalah biar saya punya teman orang lokal, jadi kaya homestay gitu bukan sewa kamar doang. Eh begitu sampai tempat yang udah saya booking, ternyata bangunan ini adalah hostel. Berasa ditipu sih, karena si host (tante-tante bule Amerika) nggak ngejelasin soal ini. Anyway berhubung udah di bayar ya saya terima aja. Yang bikin repot adalah tempat saya menginap ini jauh dari mana-mana, bener bener di tengah pemukiman. Berhubung Kamboja juga negara yang lebih belum berkembang di banding Indonesia, jujur aja lingkungan sekitar penginapan lumayan semrawut.

Jalan-Jalan Seharian di Phnom Penh
Saya di Phnom Penh selama 3 hari 2 malam. Berhubung hari pertama sampai udah lumayan malem dan hari ketiga berangkatnya pagi-pagi buta, waktu yang saya punya untuk eksplor Phnom Penh cuma sehari. Dalam sehari ini saya jalan-jalan di 3 tempat berikut

Royal Palace
Royal Palace Phnom Penh asri dan terawatt rapi. Di sekitarnya juga ada beberapa museum tambahan. Atraksi utama nya adalah arsitektur istana dan barang-barang peninggalan. Kalau mau ke sini mendingan pagi atau siang. Malam hari istana tidak beroperasi.

Russian Market
Berhubung trip advisor dan lonely planet menyarankan untuk ke Russian market, saya akhirnya coba datangi tempat ini siang-siang. FYI ya guys, kalau kalian naik tuk-tuk ke mari jangan lupa hapalin nama kamboja nya. Sopir tuk-tuk yang saya stop di jalan bingung gitu pas saya nyebut Russian market. Sampai dibela-belain berhenti di pom bensin buat minta mereka jadi penerjemah kita. Bahasa lokal nya Russian market adalah “Tuol Tom Pong”. Russian market ini adalah tempat barang-barang bermerk aspal, souvenir lokal, dan juga pasar tradisional. Mungkin bule-bule pada seneng kemari, cuma kalau orang Indonesia kaya kita yang punya banyak pasar kaya begini nggak terlalu spesial. Tapi yang pasti tempat yang tepat dan murah untuk beli oleh – oleh.

Tuol Sleng Genocide Museum
Tuol Sleng atau S-21 adalah penjara politik pada rezim Khmer Merah. Penjara ini awalnya adalah bangunan SMA. Setelah Khmer merah menang civil war tahun 1975, mereka memodifikasi bangunan ini untuk dijadikan tempat penyiksaan dan pembunuhan para tahanan politik. Di dalam bangunan museum ini terpajang foto-foto para tahanan dan tengkorak-tengkorak mereka. Di halaman museum juga masih tertancap papan tata cara “menyiksa tahanan secara efektif”. Ruangan tempat penyiksaan juga diperlihatkan ke semua pengunjung lengkap dengan alat-alat penyiksa nya. Berkunjung kemari bikin hati kita terenyuh, kok bisa-bisa nya sesama manusia bisa sejahat ini demi ambisi pribadi aja.

Killing Field
Saya di rekomendasijan untuk ke “killing field” yang mana adalah tempat pemusnahan tahanan politik pada rezim Khmer Merah. Berhubung saya cuma punya sehari, dan lokasi “killing field” lumayan jauh dari tengah kota, saya skip tempat ini. Cuma kalau saya punya kesempatan ke “killing field” lagi pasti bakal sempetin ke tempat ini. Kalau Tuol Sleng aja udah bikin meriniding, killing field bakal bikin merinding 10 kali lipat. Di “killing field” ini ber puluh-puluh ribu orang dibantai. Nggak peduli tua, muda, perempuan dan bayi pun di bantai habis-habisan. Konon untuk menghemat peluru, saat akan membunuh bayi, tentara Khmer merah melempar kepala bayi-bayi tersebut ke pohon sampai hilang nyawa. Pohon yang dimaksud juga masih ada di tempat ini.

Backpacking di Phnom Penh kali ini suasananya bikin terenyuh. I still have fun tapi yang saya ngerasa belajar sangat banyak mengenai sejarah Kamboja, genosida yang terjadi saat Khmer Merah berkuasa. Bagaimana Negara yang hancur karena ulah penguasa lokal (Khmer Merah) harus bangun negara dari nol lagi. Semua ini baru terjadi sekitar tahun 1975. Masih belum terlalu lampau. Orang tua saya aja udah remaja pas tahun 1975. 40 tahun kemudian masyarakatnya sudah menyambung hidup secara normal. Surreal.

How to reach Phnom Penh
Bus from Ho Chi Minh

Where to stay
Hotel around the water front and palace
Jangan airbnb

What to do
Tuol Sleng, Killing Field, Palace, market??
Preserve dollars

What not to do:
Walking alone at night

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *