Backpacking ke Kamboja 2 (Siam Reap)

Backpacking ke Kamboja 2 (Siam Reap)

Kenapa Siam Reap
Siam Reap adalah kota terbesar no 2 di Kamboja. Siam Reap terkenal karena peninggalan candi-candinya termasuk Candi Angkor Wat. Karena udah jauh-jauh ke Kamboja, saya sempetin mampir beberapa hari keliling Siam Reap.

Cara ke Siam Reap
Ada beberapa cara menuju Siam Reap dari Phnom Penh maupun negara-negara sekitar.

Dari Phnom Penh
Bisa pilih dengan menggunakan bus atau pesawat. Kalau pesawat coba cek maskapai “Cambodia Angkor Air”. Harga tiket pada saat blog entry ini ditulis adalah 50 USD -100 USD. Lama penerbangannya 40 menit. Tapi setahu saya kebanyakan para turis dan backpacker pilih jalan darat. Lebih tepatnya naik bus (karena di kamboja nggak ada kereta). Ada beberapa pilihan bus yang jalan tiap hari ke Siam Reap. Perjalanan makan waktu sekitar 6 jam karena jalanannya masih banyak yang belum beraspal.

Dari Bangkok
Jika ingin naik pesawat, coba cek website “Air Asia” dan “Bangkok Airways”. Ada penerbangan dengan harga mulai dari 100 USD (one way). Kalau mau yang murah, coba naik travel dari Bangkok langsung ke Siam Reap. Saya pun pernah coba naik travel ini. Harga tiket-nya nggak sampai 30 USD (One way) dan lama perjalanan sekitar 8 jam (sudah termasuk berhenti di imigrasi dan istirahat makan)

Malaysia
Air Asia punya direct flight dari KL ke Siam Reap. Harga tiket one way sekitar 100 USD.

Vietnam
Kalau dari Hanoi berhubung jauh harus naik pesawat. Cuma kalau dari Ho Chi Minh City naik bus juga bisa. Perjalanan makan waktu sekitar 12 jam.

Perjalanan Phnom Penh – Siam Reap
Saya naik bus pariwisata dari area berhenti bus dekat royal palace. Sebelum beli tiket saya dapat informasi bahwa ada 4 perusahaan bus pariwisata yang punya reputasi bagus; Giant Ibis Transport, Sorya Transport 168, Capitol , Mekong Express. Saya pilih naik Giant Ibis Transport karena armadanya relatif baru dan kursinya paling lebar dibanding yang lain. Harga tiket sekitar 15 USD. Bus ber AC, wifi (walaupun di tengah jalan tiba-tiba wifinya nggak jalan) dan dapat snack. Untuk pembelian tiket, bisa beli langsung di kantor “giant ibis” yang mana terletak di depan bus parkir sebelum berangkat. Bisa juga minta tolong guest house/ hotel tempat menginap untuk pesenin atau beli online di website mereka dan dibayar pakai kartu kredit (Saya sendiri beli tiket bus ini online). 6 jam perjalanan dari Phnom Penh ke Siam Reap lancar. Cuma karena jalanan antar provinsi di Kamboja banyak yang belum beraspal, bus nggak bisa melaju terlalu kencang.

Penginapan di Siam Reap
Ada banyak varian tempat menginap di Siam Reap. tema jalan-jalannya kali ini adalah backpacking, saya cari backpacker guest house yang terjangkau dan comfy. Kebanyakan backpacker guest house terletak di sekitar area night market dan pub street (kalau pilih penginapan saya sarankan yang dekat dua area ini sih biar gampang cari makan dan hiburan). Guest house yang saya tempati namanya “One Stop Hostel”. Hostel ini hanya menyediakan kamar dormitory. Ada 2 pilihan kamar yaitu kamar dengan 4 “bunk bed” atau kamar dengan 18 “bunk bed”. Walaupun modelnya dormitory, guest house ini salah satu guest house yang menurut saya paling bersih selama perjalanan saya keliling Asia Tenggara. Semua orang harus lepas alas kaki sebelum masuk bangunan. Kamarnya pun dibersihkan tiap hari. Manajemen hostel juga me-recycle sampah mereka. Tiap kamar ber-ac dan terkoneksi dengan wifi. Tarif per orang-nya sekitar 7 USD per malam. Beberapa malam menginap di hostel ini saya juga dapat kenalan yang seru-seru sampai akhirnya selama di Siam Reap saya selalu jalan-jalan bersama mereka.

Hal Yang Wajib di Coba di Siam Reap

Keliling Candi
Tujuan utama hampir semua turis dan backpacker yang pergi ke Siam Reap adalah mengunjungi Angkor Wat. Tapi perlu diketahui kalau Kompleks candi di Siam Reap bukan hanya Angkor Wat. Ada beberapa kompleks Candi yang masing-masing punya keunikan sendiri. Berhubung jumlahnya lumayan banyak dan butuh waktu yang nggak sedikit untuk mengunjungi tiap candi, Temple Visit biasanya dibagi jadi dua hari. 1 hari untuk mengunjungi candi-candi di small circle dan 1 hari lagi untuk mengunjungi candi-candi di big circle. Saya sendiri coba dua-duanya dengan 3 orang teman yang saya kenal dari hostel. Kita ber empat mencarter tuk-tuk buat nganterin kita seharian.

Small Circle
Big Circle
Bang Meala

Pub Street
Hiburan malam di Siam Reap boleh dibilang terpusat di Pub Street. Mulai dari restoran yang jenisnya macem-macem, bar, club dan karaoke.

Pasar Seni
Jangan lupa ke pasar seni Siam Reap. Setahu saya ada 2 pasar seni di sekitar daerah Pub Street. Pasar seni yang pertama ada di seberang sungai di dekat pub street. Pasar Seni yang kedua letaknya di Jalanan utama sebelum masuk ke area pub street. Satu jalan dengan “one stop hostel” (hostel tempat saya menginap).

Backpaking di Kamboja 1 (Phnom Penh)

Backpaking di Kamboja 1 (Phnom Penh)
Bus Antar Negara Ho Chi Minh City / Saigon – Phnom Penh
Perjalanan saya di Kamboja meliputi Phnom Penh dan Siam Reap. Berhubung kota tempat saya singgah sebelum Kamboja adalah Ho Chi Minh (Vietnam), saya putuskan untuk naik bus ke Kamboja (Phnom Penh) karena murah dan perjalanannya nggak lama-lama amat. Lama perjalanan sekitar 6 jam termasuk berhenti di imigrasi untuk cap paspor dan istirahat makan.
Cara Reservasi Bus
Di Ho Chi Minh City ada jalan yang namanya Jalan Pham Ngu Lao. Jalan ini terkenal di antara backpacker dan turis asing karena banyak guest house murah dan bar tempat ngumpul para traveler. Di jalan ini juga banyak biro travel. Nah kantor bus yang saya pakai untuk ke Phnom Penh kantornya juga di daerah ini.
Ada beberapa perusahaan bus yang bisa dipilih. Karena pada dasarnya saya lumayan males ngabisin waktu untuk research pilih akomodasi, saya langsung booking kursi bus dari perusahaan yang punya reputasi cukup bagus di trip advisor dan kalau di google keluarnya pas halaman pertama he..he..
Bus yang saya naiki ber-ac dan ada wifi gratis selama perjalanan (walaupun pas udah lewat perbatasan Kamboja wi-fi nya gak jalan sama sekali). Tapi yang paling penting dan harus diinget adalah, ada beberapa perusahaan bus yang mengharuskan kita untuk ganti / oper bus pas di perbatasan Kamboja – Vietnam. Jadi kita harus bawa semua barang bawaan. Bus yang saya naiki untungnya nggak mengharuskan kita oper, dan itu emang yang mereka gembor-gemborkan.
Bus yang saya naiki namanya SAPACO bus, harga tiketnya sekitar 230,000 Dong (rate pada saat ini kalau di rupiahkan adalah sekitar Rp 120,000) Lumayan murah kan, kayak bus antar provinsi di Jawa. Kalau mau informasi lebih detail mengenai bus SAPACO bisa coba buka link ini. Jangan lupa untuk booking dulu ya, karena jadual bus nya udah pasti per hari dan kadang-kadang suka penuh banget.

Selama Perjalanan dari Vietnam ke Kamboja
Saya naik bus yang jam 12:00, jadi diperkirakan sampai di Phnom Penh sekitar jam 18:00. Perjalanan cukup lancar. Kita berhenti di imigrasi sekitar 15 menitan untuk cap paspor lalu langsung balik ke bus. Nggak jauh dari perbatasan, bus berhenti lagi untuk istirahat makan siang (makan sore sih lebih tepatnya). Tempat istirahat nya ya semacam rumah makan yang mirip kaya rumah makan pinggir jalan antar provinsi di sepanjang Jawa. Jalanan lumayan lancar dan bebas hambatan sampai dengan masuk Phnom Penh. Begitu udah masuk kota bus mandeg karena macet. Kalau di bandingin dengan kota-kota besar di Indonesia, Phnom Penh nggak terlalu besar, tapi macet-nya sama-sama ngeselin. Begitu sampai di tempat pemberhentian, yang mana jalanan biasa (bukan terminal) depan kantor bus SAPACO cabang Phnom Penh, saya turun dan langsung cari tuk-tuk (semacam becak ditarik pakai motor). Di sebelah kantor SAPACO ada atm, jadi kalau lupa nggak nukarin duit bisa ambil cash dari ATM. Perlu diingat kalau di Kamboja dolar Amerika bisa dipakai. ATM tempat saya narik duit pun ngeluarinnya dolar Amerika. Sepanjang yang saya dengar, kalau transaksi besar biasanya pakai dolar amerika, cuma untuk beli barang-barang kecil bisa pakai mata uang lokal.

Tempat menginap di Phnom Penh
Hotel, guest house dan hostel tempat para traveler menginap biasanya berada di sekitar water front dan royal palace. Jadi saran saya kalu cari penginapan lebih baik menginap di dekat daerah ini. Di sekitar daerah ini banyak restoran, kafe, tempat kongkow-kongkow jadi gampang cari makan dan hiburan. Sebenarnya kali ini di Phnom Penh saya nggak tinggal di daerah royal palace ini, tapi di suatu daerah antah berantah yang di sekitar nya nggak ada apa-apa. Kenapa bisa begitu? Karena saya bandel milih cari tempat menginap di airbnb. Bukan ngejelekin airbnb sih, saya sebelumnya udah sering pake situs ini buat cari akomodasi murah di berbagai macam tempat, cuma lihat sikon juga kali ya. Kalau di kota kaya Tokyo atau Seoul yang gampang transportasi-nya boleh lah kita pakai airbnb, cuma untuk Phnom Penh saran saya nginep di daerah yang rame aja. Selain itu tujuan saya nginep di akomodasi privat via airbnb adalah biar saya punya teman orang lokal, jadi kaya homestay gitu bukan sewa kamar doang. Eh begitu sampai tempat yang udah saya booking, ternyata bangunan ini adalah hostel. Berasa ditipu sih, karena si host (tante-tante bule Amerika) nggak ngejelasin soal ini. Anyway berhubung udah di bayar ya saya terima aja. Yang bikin repot adalah tempat saya menginap ini jauh dari mana-mana, bener bener di tengah pemukiman. Berhubung Kamboja juga negara yang lebih belum berkembang di banding Indonesia, jujur aja lingkungan sekitar penginapan lumayan semrawut.

Jalan-Jalan Seharian di Phnom Penh
Saya di Phnom Penh selama 3 hari 2 malam. Berhubung hari pertama sampai udah lumayan malem dan hari ketiga berangkatnya pagi-pagi buta, waktu yang saya punya untuk eksplor Phnom Penh cuma sehari. Dalam sehari ini saya jalan-jalan di 3 tempat berikut

Royal Palace
Royal Palace Phnom Penh asri dan terawatt rapi. Di sekitarnya juga ada beberapa museum tambahan. Atraksi utama nya adalah arsitektur istana dan barang-barang peninggalan. Kalau mau ke sini mendingan pagi atau siang. Malam hari istana tidak beroperasi.

Russian Market
Berhubung trip advisor dan lonely planet menyarankan untuk ke Russian market, saya akhirnya coba datangi tempat ini siang-siang. FYI ya guys, kalau kalian naik tuk-tuk ke mari jangan lupa hapalin nama kamboja nya. Sopir tuk-tuk yang saya stop di jalan bingung gitu pas saya nyebut Russian market. Sampai dibela-belain berhenti di pom bensin buat minta mereka jadi penerjemah kita. Bahasa lokal nya Russian market adalah “Tuol Tom Pong”. Russian market ini adalah tempat barang-barang bermerk aspal, souvenir lokal, dan juga pasar tradisional. Mungkin bule-bule pada seneng kemari, cuma kalau orang Indonesia kaya kita yang punya banyak pasar kaya begini nggak terlalu spesial. Tapi yang pasti tempat yang tepat dan murah untuk beli oleh – oleh.

Tuol Sleng Genocide Museum
Tuol Sleng atau S-21 adalah penjara politik pada rezim Khmer Merah. Penjara ini awalnya adalah bangunan SMA. Setelah Khmer merah menang civil war tahun 1975, mereka memodifikasi bangunan ini untuk dijadikan tempat penyiksaan dan pembunuhan para tahanan politik. Di dalam bangunan museum ini terpajang foto-foto para tahanan dan tengkorak-tengkorak mereka. Di halaman museum juga masih tertancap papan tata cara “menyiksa tahanan secara efektif”. Ruangan tempat penyiksaan juga diperlihatkan ke semua pengunjung lengkap dengan alat-alat penyiksa nya. Berkunjung kemari bikin hati kita terenyuh, kok bisa-bisa nya sesama manusia bisa sejahat ini demi ambisi pribadi aja.

Killing Field
Saya di rekomendasijan untuk ke “killing field” yang mana adalah tempat pemusnahan tahanan politik pada rezim Khmer Merah. Berhubung saya cuma punya sehari, dan lokasi “killing field” lumayan jauh dari tengah kota, saya skip tempat ini. Cuma kalau saya punya kesempatan ke “killing field” lagi pasti bakal sempetin ke tempat ini. Kalau Tuol Sleng aja udah bikin meriniding, killing field bakal bikin merinding 10 kali lipat. Di “killing field” ini ber puluh-puluh ribu orang dibantai. Nggak peduli tua, muda, perempuan dan bayi pun di bantai habis-habisan. Konon untuk menghemat peluru, saat akan membunuh bayi, tentara Khmer merah melempar kepala bayi-bayi tersebut ke pohon sampai hilang nyawa. Pohon yang dimaksud juga masih ada di tempat ini.

Backpacking di Phnom Penh kali ini suasananya bikin terenyuh. I still have fun tapi yang saya ngerasa belajar sangat banyak mengenai sejarah Kamboja, genosida yang terjadi saat Khmer Merah berkuasa. Bagaimana Negara yang hancur karena ulah penguasa lokal (Khmer Merah) harus bangun negara dari nol lagi. Semua ini baru terjadi sekitar tahun 1975. Masih belum terlalu lampau. Orang tua saya aja udah remaja pas tahun 1975. 40 tahun kemudian masyarakatnya sudah menyambung hidup secara normal. Surreal.

How to reach Phnom Penh
Bus from Ho Chi Minh

Where to stay
Hotel around the water front and palace
Jangan airbnb

What to do
Tuol Sleng, Killing Field, Palace, market??
Preserve dollars

What not to do:
Walking alone at night

BACKPACKING KELILING ASIA TENGGARA (THAILAND)

BACKPACKING KELILING ASIA TENGGARA (THAILAND)

Gimana caranya ke Thailand
Berapa lama
Nginep dimana
Ngapain Aja
Hari 1: Arrive – Ketemu Temen – Bed Bugs
Hari 2: Bed Bugs – Ketemu Julia Cassi – Beli Tiket Meet Yang
Hari 3: Bike all day – ke Snack Bar
Hari 4: pindah dari Khaosan ke Asoke – Ketemu Temen
Hari 5: Ke Udon Tani

Ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi Thailand. Walaupun sudah pernah kemari dua kali, dua-duanya untuk keperluan kantor. Jadi bisa dikata nggak pernah jalan-jalan di negara ini. Makannya kali ini saya excited banget. Di kantor yang kemaren posisi saya adalah overseas sales associate in charge untuk daerah Asia Tenggara. Jadi sering ke negara-negara ini untuk keperluan kantor. Dari semua business trip di negara-negara Asia Tenggara, Thailand adalah favorit saya. Nggak berasa kayak business trip! Orangnya pun kaya orang Indonesia (santai-santai serius gimana gitu). Kali ini saya berencana untuk jalan-jalan keliling Bangkok selama 5 harian sebelum akhirnya cabut ke Laos.

Menginap Dimana?
Setelah hunting berbagai macam informasi online, banyak yang bilang kalau para backpackers yang datang ke Bangkok biasanya menginap di daerah Khaosan.
Kata-katanya nih, di daerah Khaosan banyak hostel dan guest house. Untuk para backpackers yang berencana keliling Asia Tenggara pun bisa beli semua perlangkapan disini, termasuk tiket perjalanan ke kota / negara lain. Saya coba deh booking 2 malam di salah satu guest house di daerah Khaosan. Kenapa cuma 2 malam padahal kan rencananya 5 malam di Bangkok? Nah, menurut pengalaman saya selama ini, beberapa kali saya ada pengalaman buruk sama guest house tempat saya menginap. Maklum juga sih, booking nya kan online (kebanyakan lewat hostel world.com). Walaupun di foto dan rating bagus, belum tentu cocok sama kita. Jadi kalau cuma booking untuk beberapa malam pertama, kalau cocok bisa extent, kalau nggak ya Thank god kita bisa move on ke tempat lain tanpa ribet sama cancellation policy hotel dan website tempat kita apply.
Harga guest house-nya pun bervariasi. Karena saya sering backpacking sendirian untuk berhemat sekalian cari temen, saya suka pilih “dorm room”. Jadi sekamar isinya bisa bisa 4 orang, 6 orang, atau 8 orang tergantung policy tiap guest house. Untuk kamar dorm room di Bangkok rata-rata harganya dibawah 10$ permalem. Tinggal di dorm pun bikin punya banyak temen. Nggak jarang saya ended up jalan bareng dengan mereka selama backpacking. Beberapa malah jadi teman baik dan masih terus lanjut berhubungan sampai sekarang. Kalau mau tinggal di private room pun di Bangkok banyak pilihan. Trip kali ini pun saya bagi beberapa hari tinggal di Khaosan lalu sisanya di “hotel” yang mendingan di daerah lain.

Day 1 –Bed Bugs
Saya tiba di Bangkok sekitar jam 1 siang. Semakin sering saya backpacking, semakin relax (baca: males) soal cari tau gimana cara ke guest house de el el. Kali ini pun saya belum tau gimana cara ke guest house yang saya booking. Setelah tanya informasi, saya baru sadar kalau lokasi Khaosan Road itu sangatlah tidak praktis. Nggak dilewati monorel dan subway. Jadi dari Suvarnabhumi airport masih harus naik airport link (MRT) lalu lanjut pakai taxi. Kalo backpacking nya sendirian bisa berat di ongkos. Tapi ya udah lah ya, bari pertama kali juga. Saya pun pakai airport link lalu lanjut dengan taxi sampai daerah Khaosan. Satu lagi yang bikin Khaosan nggak praktis adalah macetnya parah. Itulah kenapa banyak juga turis / backpakers yang lebih pilih tinggal di daerah sekitar jalur MRT atau monorel. Setelah taksi turunin saya di guest house, saya check in dan langsung di bawa ke kamar. Kamar saya kali ini adalah dorm room dengan 6 bed. Tiap bed ada plug dan lampu. AC-nya diprogarm untuk cuma nyala dari jam 6 sore sampai 12 siang. Setelah check in, saya rebahan di kasur sebentar lalu turun ke area lobby untuk beli minuman dan nge-chill. Area lobi guest house ini penuh matras-matras yang digelar di lantai tempat para tamu tamu untuk santai-santai. Karena kamar dorm lumayan sempit, hampir semua tamu hang out di area ini. Rebahan, ngobrol, web surfing, dan lain lain. Nggak lama setelah saya beli minuman dan duduk di area lobi, punggung saya tiba-tba gatel. Saya kira cuma gatel biasa, tapi lama-lama makin gatel dan punggung saya bengkak merah merah. Karena merasa nggak nyaman saya langsung balik ke kamar dan tidur.
Saya bangun tengah malem dengan gatal yang makin menjadi-jadi. Setelah browsing gejala-gejalanya, kemungkinan besar ini adalah BED BUGS!
Buat yang belum tau bed bugs, bed bugs ini adalah kutu busuk (Wikipedia juga nyebutin kalau nama lainnya adalah “bangsat”) hahaha. Sampai sekarang sering denger orang cursing “bangsat” baru tau arti harifiahnya adalah “bed bugs”.
Hari pertama di negara orang, udah langsung kena “bed bugs”. Emang udah nasib. Akhirnya malam itu saya cuma tidur.

Day 2 – Serendipity & Chaotic Khaosan

Hari kedua gatel-gatel di punggung udah mulai hilang. Tapi tiap balik ke lobi dan duduk di matras-matras pasti gatel lagi. Hiiii, jangan-jangan yang penuh kutu busuk itu bukan kasur saya tapi ya matras-matras di lobi itu. Gimana nggak ya, kan ini guest house tuh rame banget. Penuh dengan bule-bule backpackers yang cuma pakai kaos kutang dan God knows di Asia Tenggara udah dari mana aja mereka. Tapi walaupun begitu sampai sekarang saya nggak pernah ngalamin yang namanya di gigit kutu busuk kaya begini. Pas mau keluar guest house ada couple bule yang mengeluhkan hal yang sama. Emang dasar guest housenya….

Well, berhubung ini udah hari ke dua dan dalam beberapa hari saya harus cabut untuk ke Vientiane (Laos) sedangkan akomodasi belum disiapkan sama sekali, pagi ini saya cabut ke starbucks di sekitar guest house. Setelah order dan dapet tempat duduk yang pas saya mulai buka laptop dan hunting akomodasi dan tiket. Setelah coba konek ke wifi starbucks tapi tetep nggak berhasil saya tanya cewe sebelah saya yang juga lagi pakai laptop. Namanya “Julia” asalnya dari Chile. Aslinya cuma mau tanya soal wifi, akhirnya malah ngobrol ngalor ngidul. Julia juga sama seperti saya, baru resign dari pekerjaannya. Tapi Julia ini sedang backpacking keliling dunia. Nggak lama setelah dia kasih tau kalau wifinya gak gratis dia nyodorin kartu prepaid yang dia udah beli. “kamu pakai aja kartu saya!” katanya. Asekk deh dapet gratisan hahaha. Alhasil selama beberapa jam di starbucks kita jadi ngobrol macem-macem.
Anyway, saya masih harus booking guest house dan tiket perjalanan ke Vientiane. Setelah cramming cari informasi, ternyata ada beberapa alternatif untuk ke Vientiane dari Bangkok.
1) Bus
2) Kereta
3) Pesawat (Bangkok – Vientiane)
4) Pesawat (via Udon Thani)

Berhubung direct flight lumayan mahal, saya jadi menimbang –nimbang mau naik kereta atau pesawat tapi via Udon Thani. Low cost airlines yang sering dipakai di Thailand adalah “Thai Air Asia” dan “Nok Air”. Menurut blog-blog lain harga tiket pesawat dari Bangkok ke Udon Tani biasanya

Menurut saya pribadi, Khaosan Road ini kayak daerah-daerah sekitar pasar / kota tua. Semrawut, banyak pedagang kaki lima, dan penuh orang jualan berbagai macam komoditi. Literally daerah “pasar” Cuma memang kalau backpackers tinggal di daerah ini bisa nemu tempat makan murah, club-club yang santai (boleh pakai flip flop dan short pants) and cheap boozes. Kalau malem minggu, Khaosan road juga berubah jadi tempat nongkrong para backpackers. Ada live band di resto-restonya, jalanan yang udah sumpek dengan pedagang kaki lima pun lebih sumpek lagi dengan adanya “disko dadakan”. Apa coba “disko dadakan” haha. Jadi yang saya maksud dengan “disko dadakan” adalah jadi banyak DJ booth semi permanen di sepanjang jalan dan banyak yang joget joget gak keruan. Most random thing ever. Joget pake EDM background di pasar? Men……. -______- Ada juga yang jualan “laughing gas”. Apa itu “laughing gas”? Setelah tanya-tanya, “laughing gas ini ternyata adalah Nitrous Oxide. Nitrous Oxide dipakai untuk bebagai macam hal seperti keperluan anesetesi dokter gigi sampai untuk memacu laju mesin pada saat balap motor/ mobil (NOS). Aman apa nggaknya untuk recreational consumption ngga tau deh….

Day 3 – Bersepeda di Bangkok

Satu satunya rencana hari ini adalah ketemu teman kuliah saya. Berhubung mereka baru pulang kantor sore, jadi kite ketemu pas dinner time. Jadi saya free dari pagi sampai dinner time. Hari ini pun saya belum planning mau ngapain. Pas pagi turun di lobby, ada informasi mengenai tur sepeda keliling Bangkok Old City. (Jadi kita naik sepeda lalu keliling daerah sekitar Khaosan dan Grand Palace). Tarifnya sekitar …… dan kita akan di guide untuk 2 jam tur. Jam tur ini pun dibagi tiga slot. Ada slot pagi, slot siang dan slot malam. Berhubung slot pagi udah nggak ke kejar saya ikutan yang slot siang. Hari itu ternyata yang daftar tur slot siang cuma saya! Jadi dapet private tur deh hehehe! Selama tur yang paling berkesan adalah kita bisa lihat banyak objek dengan santai. Dari mulai jalan utama sampai masuk jalan-jalan kampung juga. Pesen saya sebelum booking tur adalah jangan ikut yang slot siang bolong hahaha!. Tur-nya sendiri sangat fun. Cuma Bangkok tuh sepanas Jakarta. Jadi kalau siang bolong naik sepeda di bawah matahari sekitar 2 jam an bisa dibayangin akan jadi betapa gosong-nya badan kita. Setelah tanya guide tur ini, si mas guide juga bilang kalau kebanyakan peserta tur pilih slot pagi atau malam. Khususnya slot malam paling populer.
Tur saya mulai jam 13:00 dan kelar sekitar jam 15:00. Setelah sampai finish line dan ngebalikin sepeda, saya dikasih tissue basah. Men.. dapet tissue basah untuk muka setelah di bawah terik matahari segitu lama tuh rasanya relaxing banget.
Sore ini saya istirahat aja ngumpulin energi untuk ketemu temen nanti malem.
Malamnya saya cabut ke daerah Sukhumvit buat ketemu temen. Sukhumvit ini termasuk daerah CBD (Central Business District) –nya Bangkok. Jadi gampang dijangkau. Setelah naik taksi sampai stasiun BRT (Monorelnya Bangkok) saya turun di stasiun Sukhumvit dan langsung ke mall “Terminal 21” tempat saya janjian sama temen. Mallnya nyambung stasiun monorel jadi praktis. Setelah ketemu sama temen, saya diajak ke tempat yang dia udah reservasi. Ternyata saya dibawa ke rooftop bar & Resto. Namanya “Long Table”. Makanannya biasa sih, nggak jauh beda sama masakan Thai seperti biasanya. Cuma pemandangannya luar biasa. Ada dip pool nya pula!

Day 4 Bangkok – Vientiane
Hari terakhir di Bangkok saya harus berangkat pagi-pagi ke Bandara Don Mueang (bukan bandara baru Suvarnabhumi) untuk terbang ke Udon Thani Lalu lanjut dengat jalan darat ke Vientiane (Laos). Kali ini saya dapet tiket super murah dari Bangkok ke Udon Tani dengan Thai Lion Air. Waktu itu, Thai Lion air baru berpoperasi dan promosi besar besaran. Tiket saya pun harganya cuma 500 THB atau sekitar Rp 200,000. Kebanyakan low cost carrier terbang dari Don Mueang. Bandara ini nggak jauh dari pusat kota, cuma agak rebek aja karena nggak ada airport link seperti yang Suvarnabhumi punya. Pilihannya: naik taksi atau naik BTS sampai ke Mo Chit Station lalu lanjut dengan bus kota. Berhubung flight saya pagi-pagi banget, akhirnya saya milih naik taksi.

BACKPACKING KELILING ASIA TENGGARA (INTRODUCTION)

BACKPACKING KELILING ASIA TENGGARA (INTRODUCTION)

Pertengahan 2014 saya bertekad untuk resign dari kantor. Being a sales engineer for high tech analyzer instruments manufacturer was not a bad job at all. The stress was there but I earned well. On the top of that, the job taught me a lot. Within 3 years of employment I have grown from just a college fresh grad to a trained Sales Associate. Tapi rasa-rasanya 3 tahun udah cukup. Time to step up and leave Japan. Dari awal tahun saya udah ancang-ancang untuk resign. Sampai dibela-belain apply S2 ke Australia. Setelah tahu saya diterima di program-program S2 yang saya apply, saya beranikan diri untuk resign. Awal September semua urusan resign udah selesai and I was more than ready for the next journey. Berhubung semua progam S2 yang saya lamar baru mulai awal 2015, saya punya waktu luang sekitar 6 bulan-an. Ngapain aja 6 bulan ini? Rencana saya ada 2. Rencana pertama: pulang ke rumah! Dari umur 19 kuliah S1 sampai akhirnya kerja di Jepang, saya jarang banget pulang ke rumah. Maksimal pulang setahun sekali. Kalau ditanya kenapa nggak pulang tiap liburan kuliah? Ya saya cuma bisa bilang kalau liburan kuliah di Jepang biasanya saya pakai buat kerja part time habis-habisan biar pas bulan bulan kuliah nggak khawatir kekurangan finansial. Maklum nggak semua pelajar Indonesia di luar negeri beruntung bisa dapat full scholarship tanpa harus khawatir to meet end meet. Sedangkan pas udah mulai kerja, setahun cuma dapet libur 14 hari. Susah pulang! Jadi gap year kali ini harus disempet-sempetin pulang. Saya asalnya dari Madiun (Jawa Timur). Madiun itu kecil dan tentram. Tapi kalau kelamaan di Madiun tanpa aktivitas yang jelas bisa gila juga. Jadi rencana kedua saya selain pulang adalah: Backpacking! Setelah fix dengan dua plan ini saya mulai bikin timeline-nya; 2 bulan backpacking (ini bikin excited banget. Selama ini nggak pernah yang namanya backpacking lebih dari 2 minggu, sekarang malah 2 bulan) lalu setelah itu pulang ke Indonesia. All fixed!

Kali ini tujuan backpacking saya adalah keliling Jepang dan Asia Tenggara. Keliling Jepang karena setelah 7 tahun tinggal disini saya merasa harus say goodbye sama semua temen-temen dekat dan kota-kota yang pernah saya tinggali. Sedangkan Asia Tenggara karena beberapa alasan:
1) Murah; Saya berencana keliling Thailand – Laos –Vietnam – Kamboja –Malaysia – Singapore –Indonesia. Empat Negara pertama berbatasan satu sama lain, jadi bisa lewat jalan darat yang mana murah. Karena Negara-negara ini adalah destinasi utama backpackers dunia jadi banyak akmodasi backpackers oke dan budget friendly. Di Laos kamar saya cuma sekitar 50 ribu rupiah semalem, Naik bus dari Ho Chi Minh City (Vietnam) ke Phnom Penh (Kamboja) cuma sekitar 100 ribu rupiah.
2) Kenal Tetangga; Sebagai penduduk Asia Tenggara saya merasa kurang mengenal negara-negara tetangga. Ini saatnya buat tahu lebih dalam negara-negara di sekitar Indonesia. Apalagi dari tahun 2015 Asean Economic Community sudah berjalan. Saatnya berinteraksi lebih jauh dan berbisnis dengan tetangga-tetangga kita ini.
3) Go for the adventures; Seperti yang kita semua tahu, Negara-negara tetangga kita ini keadannya macem-macem. Ada yang ekonominya sudah maju seperti Singapore, ada yang masih tertinggal seperti Laos dan Kamboja. Ada yang mayoritas Muslim seperti Malaysia ada juga yang lebih “free” seperti Thailand. Pasti banyak pengalaman yang bisa dipetik dari perjalanan ini.

Banyak yang tanya; “Nggak takut lo jalan-jalan keliling Asia Tenggara sendirian?” Saya jawab aja “Nggak, khawatir apaan sih?” Sebenernya ada sih rasa khawatir sedikit haha. Bukan khawatir takut kena masalah selama perjalanan, tapi takut duitnya nggak cukup sampai ke Indonesia, apalagi tahun depan masih harus S2 di Australia. Tapi setelah “meneguhkan hati” bahwa kalau udah move on dengan kuliah s2 ataupun kerja nggak bakal ada waktu buat backpacking selama 2 bulan, saya akhirnya nekat berangkat.

Detail perjalanan kali ini akan saya bahas di postingan selanjutnya. Karena negaranya banyak, di bagi per-negara aja kali ye.

Sebagai bocoran perjalanan saya kali ini silahkan tonton kompilasi video di bawah:

5 Hal Yang Harus Dilakukan Selama di Gili Trawangan

5 Hal Yang Harus Dilakukan Selama di Gili trawangan

Backpacking kali ini saya habiskan waktu sekitar 5 hari di Pulau Gili Trawangan.
Walaupun kayanya lumayan lama, saya masih ngerasa kurang dan kalau bukan ada kewajiban lain mungkin bakal nambah 2 harian lagi. Dalam 5 hari tersebut saya sibukkin diri dengan macem-macem aktifitas.

1) Menyelam (Diving) di Gili Trawangan

Seperti yang sudah saya bilang di entry sebelumnya, tujuan utama saya ke Gili Trawangan kali ini adalah untuk mendapat “diving license”. Saya dengar ada beberapa kualifikasi yang dikeluarkan oleh beberapa organisasi menyelam. Tapi yang paling common dan universal adalah kualifikasi yang dikeluarkan oleh PADI (Professional Association of Diving Instructor). Jadi saya putusin untuk ambil license paling gampang yang dikeluarkan oleh PADI yaitu “open water dive”. Untuk lebih jelasnya lihat penjelasan dibawah ini !
Macam-macam Diving
Scuba Diving
Open Water Diving
Advanced Diving

Pilihan tempat Diving
Sebelum berangkat saya browsing dive center yang ada di GIli Trawangan. Banyak pilihan dan harga yang ditawarkan relatif sama. Karena makin banyak pilihan makin jadi bingung saya akhirnya pilih beberapa yang rating nya paling tinggi di trip advisor dan web page nya paling meyakinkan untuk kemudian dibanding bandingkan. Dari segi harga semuanya hampir sama (sekitar USD 395 untuk open water dive license). Akhirnya pilihan saya jatuh ke “Blue Marlin Dive” karena rating mereka paling tinggi dan paling banyak review di trip advisor. Kalau ada waktu lebih saya anjurkan nggak usah booking dulu seperti saya. Walk – in aja langsung biar bisa ngebedain. Dive center yang saya pilih bagus sih cuma alangkah lebih baiknya kalau bisa ngebandingin secara langsung dengan dive center lain sebelum mutusin untuk pakai yang mana. Yang pasti harus aman dan terlihat professional. Lalu tinggal cocok-cocokan sama instrukturnya. Untuk open water dive course yang saya ambil butuh waktu sekitar 3.5 hari (3 hari plus 2 jam sebelum hari pertama untuk belajar teori). FYI course ini lumayan menguras tenaga. Selama 3 hari saya nggak sempat ngapa-ngapain karena seharian di dive center, belajar teori dan diving. Nggak ada energy buat keluar malam. Untuk makan malem aja saya harus susah payah keluar.

2) Bersepeda di Gili
Jangan lupa untuk sewa sepeda paling nggak sehari di Gili Trawangan. Dengan sepeda ini kita bisa bebas keliling pulau, ngejar sunset di ujung lain pulau dan ke daerah yang sepi untuk berjemur.

3) Wisata Kuliner di Gili Trawangan
Di Gili Trawangan banyak banget resto dan dining bar yang asik untuk dikunjungi. Kebanyakan sedia masakan Indonesia dan western (secara sebagian besar pengunjung pulau adalah bule-bule). Favorit saya adalah “Scallywags Fish Market & Salad Bar”. Menurut pengamatan saya, resto ini hampir selalu rame tiap malam. Kita bisa pilih menu a la carte atau barbeque. Kalau pilih barbeque, kita tinggal ke depan resto untuk pilih daging atau ikan yang dimau. Enaknya pilih menu barbeque disini adalah harga barbeque sudah termasuk salad bar. Jadi bisa ambil salad bar buffet sepuasnya. Scally mengclaim kalau salad bar mereka dari bahan-bahan organic. Selain itu salad bar mereka macem-macem jenisnya dan yang pasti enak. Saking senengnya saya sampai ke sini 2 malem berturut – turut.

Selain Scally masih banyak restoran, dining bar, beach club lain yang bisa di eksplor. Nggak akan bosen deh pastinya!

4) Watch Movie
Salah satu hotel/resort di Gili T punya acara “movie night”. Jadi mereka pasang layar tancep pas di depan pantai dan sediain bean bags untuk para pengunjung. Tiap malem ada 2 film yang di putar (jam 19:00 dan jam 21:00). Tiap hari filmnya berbeda, jadi nggak akan bosen. Kalau berminat nonton tarifnya Rp 50,000 (include pop corn). Saya sendiri coba nonton sekali. Pas itu film nya “life of Pi” yang kebetulan saya belum pernah nonton. Overall, movie night ini cukup mengibur dan recommended. Apalagi kalau seharian kita udah capek jalan, apling enak duduk di bean bags yang pewe, nonton film outdoor sambil denger ombak.

5) Sunset
Salah satu kegiatan yang hampir semua pengunjung di Gili lakukan adalah nonton sunset. Spot yang paling bagus untuk menyaksikan sunset di gili adalah di bagian barat pantai. Kalau bingung barat-nya di Gili sebelah mana, tinggal ngikutin arah matahari terbenam, ntar pasti ketemu sendiri hehehe (at least that’s what I did). Ada beberapa beach lounge dan bar yang pas banget untuk di singgahi untuk menyaksikan sunset. Ada beberapa posh-stylish beach lounge ataupun resto-resto biasa. Saya pun awalnya bingung mau pilih yang mana. Tapi setelah muterin satu pulau naik sepeda, pilihan saya jatuh ke bar bernama “sunset bar” yang nggak posh amat tapi sangat pewe. Kursi nya kursi warung kayu biasa, tapi yang bikin spesial adalah music reggae yang mereka putar keras-keras. Suasana nya ngena banget buat saya! Lebih ngena disbanding bar-bar lain yang muter lagu-lagu techno dan top 40.

Basically, 5 hal diatas adalah kegiatan favorit saya selama di Gili Trawangan. Selain 5 aktivitas diatas masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti ikut kelas Yoga, foot massage, ikut kelas masak, berjemur di pantai, maen volley pantai dan lain lain.

JALAN JALAN KE LOMBOK (2)

Lombok Day 2

Di hari kedua saya berencana menyeberang ke Gili Trawangan. Untuk menyeberang, saya harus ke pelabuhan Bangsal yang letaknya sekitar 30 menit dari area Senggigi. Dari Senggigi ada beberapa pilihan alternative untuk ke Pelabuhan Bangsal. Bisa naik shuttle bus, taksi atau ojek.
Shuttle Service
Biasanya buri tur di daerah Senggigi punya paket shuttle bus plus fast boat dengan harga sekitar Rp 75,000. Kalau mau praktis pakailah shuttle bus. Tapi shuttle service biasanya berangkat cuma sekalipagi (sekitar jam 9). Pagi ini saya udah komit harus menyelesaikan beberapa urusan. Alhasil sepanjang pagi saya di depan laptop.
Taksi
Di sekitar Senggigi banyak taksi blue bird dan express mangkal, tinggal cari 1 dan suruh mengantar sampai Bangsal. Untuk harganya sya nggak begitu tahu, cuma resepsionis hotel bilang kalau biasanya diatas Rp 150,000
Ojek
Saya naik ojek ke Bangsal. Ojeknya saya tawar jadi Rp 80,000. Kalau bepergian sendiri gak ada salahnya naik ojek sampai Bangsal. Selain lebih murah dari taksi, pemandangan sepanjang jalan juga sangat bagus. Sepanjang jalan saya minta berhenti beberapa kali supaya bisa ambil foto.

FOTO

FYI:
Sekitar 500 m sebelum pelabuhan ada gerbang penjaga dan parkiran mobil. Semua macam mobil yang melintas harus berhenti. Jadi kita harus jalan sekitar 10 menitan atau naik “cidomo” delman nya Lombok. Kalau bawaannya ga banyak emndingan jalan sih cuma kalau bawa banyak koper dan males jalan kepanasan naik cidomo juga ga papa. Sebenernya saya nggak masalah jalan cuma karena penasaran akhirnya naik “Cidomo”. Saya bayar Rp 20,000.

Tiket Public Boat (Pelabuhan Bangsal)
Begitu sampai pelabuhan cari bangunan di kiri jalan tempat penjualan tiket. Begitu masuk Tanya langsung di belakang konter bukan mas-mas yang berdiri di sekitar. Kenapa? Karena mas-mas nya kebanyakan pekerja fast boat dan akan mencoba giring kita pakai fast boat. Karena sya mau ngirit saya menter naik public boat walaupun udah ditakut2 in suruh nunggu lah…, lama lah… dll.
Walaupun saya harus nunggu kapal cuma berangkat kalau sudah penuh, nyatanya saya cuma tunggu sekitar 30 menitan. Lumayan….
Harga public boat: Rp 18,000
Harga fast boat: Rp 75,000

Hunting Kamar di Gili Trawangan
Setelah naik kapal selama 30 menitan saya tiba di Gili Trawangan. Berhubung saya belum pesen penginapan, saya masih harus hunting. Kali ini saya mau jalan jalan murah. Jadi penginapannya pun cari yang budget. Sepanjang jalan utama GIli Trawangan (yang mana jalan utamanya ya cuma itu) banyak mas mas yang suka panggil-panggil untuk nawarin kamar. Saran saya ladenin aja, siapa tau mereka bisa cariin kamar bagus dengan harga murah. Saya pun dapet kamar dari mas mas rasta yang panggil saya pas lagi jalan hunting kamar.

Setelah dapat kamar, saya ke diving center yang udah saya reserve. (Rencana awalnya memang ke Gili Trawangan untuk ambil “ PADI open water diving license”.

JALAN-JALAN KE LOMBOK (1)

Kali ini saya berencana untuk ambil diving license di Gili Trawangan (Lombok). Kenapa Gili Trawangan? Saya pilih Gili Trawangan karena beberapa alasan. Pertama, karena denger-denger dari teman ( teman Indonesia maupun backpacker bule lainnya) Gili Trawangan itu bagus dan tidak seramai Bali. Kedua, Tiket pesawat dari Surabaya ke Lombok biasanya dibawah Rp500,000.

Ada beberapa cara menjangkau Gili Trawangan, bisa lewat Bali bisa juga lewat Lombok. Karena saya belum pernah ke Lombok sama sekali, saya putuskan untuk pakai rute Lombok – Gili Trawangan.

Surabaya – Lombok International Airport – Senggigi

Kali ini saya lumayan beruntung karena Garuda lagi promo rute Surabaya –Lombok. Lumayan lah terbang murah yay! Saya sampai Lombok International Airport jam 14:00. Untuk menyeberang ke Gili Trawangan kita harus ke pelabuhan Bangsal yang letaknya lumayan jauh (1 sampai 2 jam dari airport). Dari airport ke Pelabuhan Bangsal bisa pakai taxi atau bus Damri. Karena sendirian saya putuskan untuk naik bus Damri. Kalau naik bus Damri harga tiketnya Rp35,000 ke Senggigi. Tiket bus bis dibeli di airport. Habis ambil bagasi, jalan menuju luar airport dan langsung ketemu loket bus Damri. Tapi namanya juga naik bus, pasti ada ngetemnya. Karena saya ngga buru-buru dan emang berencana menghabiskan semalam di Senggigi, perjalanan jadi agak lama pun ga papa sih. Tapi kalau sedang buru-buru, saya sarankan naik taksi langsung dari Airport ke Pelabuhan Bangsal karena kapal buat nyeberang ke Gili Trawangan udah jarang kalau terlalu sore.

Perjalanan saya dari Lombok International Airport ke Senggigi lancar. Saya mulai masuk bus jam 14:30. Busnya ngetem sekitar 10 menitan (untungnya dengan AC menyala). Bus nya ber AC dan untungnya banyak kursi kosong. Perjalanan makan waktu sekitar satu setengah jam. Di Senggigi kita diturunkan di Jalan besar dekat pantai dimana banyak restoran, hotel, bed and breakfast, dan biro tur berada. Berhubung kali ini saya nggak reserve penginapan, pas banget saya bisa langsung jalan hunting penginapan.

Pilih Penginapan
Di dalam bus saya hunting online penginapan atau guest house di area Senggigi jadi biar begitu turun bus nggak blank. So guys, smartphone with 3G connection is really useful here. Setelah hunting beberapa, pilihan termurah sekitar Rp 100,000 per malam. Tapi karena gak sreg dengan kondisi kamar saya putuskan untuk menginap di Hotel Sendok. Tarifnya Rp 250,000 per malam. Kamarnya bersih, ada kolam renang dan dapat makan pagi.

Sunset di Senggigi
Begitu selesai check in saya istirahat sebentar lalu jalan ke arah pantai Senggigi. Jarak pantai Senggigi – hotel sekitar 200 m. Saya sampai di pantai pas sunset. Bener kata orang-orang! Sunset di Senggigi is totally breathtaking. Kira kira pemandangannya seperti ini:

Jalan Jalan keliling Flores

Jalan Jalan keliling Flores

WISATA KOMODO DAN MENGUNJUNGI DANAU KELIMUTU

Hari: 1-3 (Labuan Bajo)

Hari ke 1 “Cari pengingapan di Labuan Bajo”
Saya sampai di Labuan Bajo hari Minggu sore. Kesan pertama: Airportnya bagus! Tapi masih under construction. Jadi penasaran apa rencana pemerintah dengan bikin supermodern looking airport di tengah rural area? Anyway yang kaget bukan saya aja, beberapa bule-bule juga nggak nyangka airportnya semodern ini!

Berhubung saya nggak nemu hotel atau guest house yang cocok online, this time I’ve decided to just walk in and check all the available rooms! Setelah ambil bagasi, saya cari ojek mobil,Saya minta tolong supir taksi or ojek or whatever you call it untuk antar saya cari pengingapan. Didikan kantor lama tidak sia sia. Kalau mau cari perbandingan, paling nggak harus punya 3 pilihan dan dari 3 itu diambil mana yang paling cocok. Jadi saya minta tolong supir (Yubo namanya) untuk antar saya ke paling nggak 3 penginapan. Penginapan pertama: Tempat saudara Yubo sendiri 250K nggak pake AC lumayan jauh dari pusat kota but the view is stunning. Satu pelabuhan kelihatan semua. Tempat ke 2; 350K lebih ok dari tempat pertama (pake AC) tapi juga masih jauh dari pelabuhan. Tempat ke 3; Saya nunjuk hotel sendiri, dan ternyata yang paling cocok. 250K, kamar pake AC dan dekat jalan utama di Labuan Bajo.

Abis check in, saya coba cari makan malam, eh ketemu bule tadi siang (Christina-France). Akhirnya kita makan bareng. Karena si Christina juga lagi males makan mahal, kita makan di kaki lima deket pasar. Labuan Bajo ternyata nggak besar-besar amat. Restoran, hotel, dive shop dan tour agency semuanya di satu jalan. Kaki lima tempat kita makan juga di sekitar daerah ini. Jadi kalo cari hotel sebisa mungkin yang ada di jalan ini. (Jalan utama depan pelabuhan).

Hari ke 2 – “Wisata Komodo di Pulau Rinca”
Sebenernya saya booking tur ini on the spot 1 hari sebelumnya. Caranya sama kaya pas cari hotel. Saya muterin tour agency sebanyak mungkin dan cari deal yang paling okay. Akhirnya saya dapet 1 day tour dengan harga 300K: wisata melihat Komodo di Pulau Rinca san snorkeling di dua spot / dua pulau. Untuk wisata Komodo kita nggak harus ke Pulau Komodo, Pulau Rinca pun bisa karena dua pulau ini termasuk dalam Komodo National Park.
Tur berangkat jam 7:30 am dan pesertanya ada 3 orang. Saya, 1 bule Jerman dan Christina yang kemaren makan bareng. Ke pulau Rinca makan waktu 2 jam. Nggak sedeket yang saya bayangkan. Harusnya bawa majalah, buku atau kindle kali ya. Mau ngobrol susah soalnya deru dieselnya kenceng banget. Kita sampai pulau Rinca jam 10:00 am. We spent around 2 hours watching Komodo and trekking around the national park. Berhubung Komodo warnanya mirip bebatuan, hati hati jangan sampai salah nginjek komodo haha. Pas disana kebetulan saya lihat Komodo lagi makan. Saya baru ngerti kalo komodo itu bisa nelen kerbau (80% of tubuh kerbau- termasuk tulangnya). Setelah itu kita snorkeling di Pulau Kelor. Terakhir kali saya snorking pas di Okinawa- Jepang itupun pas masih jaman kuliah (sekitar tahun 2011). Walaupun saya nggak ahli dan tau bener soal snorkeling, saya cukup puas karena bisa lihat macem macem ikan disana. Setelah selesai snorkeling di dua pulau/ dua spot kita balik ke Labuan Bajo. Kita sampai di pelabuhan sekitar jam 4 sore.

Hari ke 3 – “Gagal ke Air Terjun Cunca Wulang”
Hari ke 3 rencanyanya ke “Air Terjun Cunca Wulang”, tapi berhubung pagi- pagi saya disibukkin urusan pesen tiket ke Ende dan paper work ke Imigrasi yang lagi ruwet saya baru free sekitar jam 12 an. Sempat bingung mau ke Cunca Wulang apa nggak. Setelah mikir-mikir akhirnya nekat ke Cunca Wulang juga. Langsung cari motor pinjaman dan cabut ke “Cunca Wulang”. Perjalanan ke “Cunca Wulang” butuh waktu sekitar 1 jam an. Begitu dapat motor langsung cabut, tapi saya baru ngeh kalau bensin motornya kosong. Crap! Langsung bingung cari pom bensin deh. Nggak tau kenapa di Flores BBM susah. Pom bensin pertama yang saya temukan premiumnya kosong, setelah muter-muter Labuan Bajo ketemu pom bensin lagi dan untungnya ada premium tapi ngantrinya sepanjang masa.
Setelah dapat bensin saya langsung menuju “Cunca Wulang”. Di Labuan Bajo cuacanya cerah, cuman begitu jalan menuju air terjun, langitnya makin gelap. Awalnya saya cuek aja jalan sendirian kea rah gunung (Air terjunnya di daerah pegunungan). Cuma makin lama perasaan making gak enak. Akhirnya setelah sekitar 45 menitan jalan saya putuskan untuk balik. Jalanan pun sepi banget, kalo ada apa apa kayanya I’ll be on my own. Firasat saya nggak salah, setalah puter balik dan jalan sepuluh menitan hujan deras! Untung di deket ada warung tempat berteduh, nge-warung dulu deh sampai hujan reda. Setelah reda saya naik motor lagi dan berhubung udah ngeluarin duit buat sewa motor seharian saya akhirnya ke objek wisata lain “Gua Batu Cermin” sebelum balik ke hotel.
“Gua Batu Cermin” letaknya deket kota, cuma 10 menitan naik motor dari pelabuhan.

Hari ke-4 “Perjalanan dari Labuan Bajo –Ende – Moni (Kelimutu)”
Satu hal yang saya pelajari di trip kali ini adalah: Flores itu besar dan panjang. Saya kira dalam seminggu saya bisa muter dari ujung timur sampai ujung barat.
Ternyata tidak sodara-sodara. Dari Labuan Bajo (barat) ke Ende (Tengah) aja kalau jalan darat nonstop nggak berhenti bisa 24 jam an. Dari Ende ke Maumere (Timur) butuh waktu sekitar 5 jam, dari Maumere ke Larantuka 3 jam. Berhubung saya udah janji sama temen yang tinggal di Larantuka bahwa akan ke tempat dia hari Kamis, paling gak saya harus udah menginap di Moni (Kelimutu) hari Rabu, jadi untuk menghemat waktu saya akhirnya naik pesawat dari Labuan Bajo ke Ende. Perjalanan makan waktu sekitar 45 menit dan harga tiket saya sekitar 500K. Tujuan saya ke Ende kali ini adalah ke Kelimutu sebelum akhirnya berangkat ke Larantuka untuk ketemu temen. Untuk ke Kelimutu sendiri saya harus menempuh perjalanan dari Ende ke Moni (sekitar 2 jam). Setelah research blog-blog saya mutusin untuk naik travel ke Moni. Caranya; dari bandara naik ojek ke pangkalan travel lalu oper ke travel. Yang di maksud travel di Flores ini adalah mobil minivan pribadi yang di jadikan travel. Semacam omprengan lah.
Ojeknya sekitar 10K dan travel saya di charge 75K. Pas tanya penumpang-penumpang lainkatanya kalau dari Ende ke Moni harusnya 30K dapet. Darn it!!
Ya udah lah ya, mau gimana lagi. Perjalanan dari Ende ke Moni jalannya berliku-liku dan naik ke daerah pegunungan. Travel yang saya naikkin ngebutnya kaya dikejar setan. Jadi selama 2 jam saya mabok! It was 2 hours of torture! Setelah bersabar sabar akhirnya saya sampai Moni! But guess what, pas sampai Moni Listriknya lagi mati! Alhasil saya diturunin di pinggir jalan yang gelap gulita. Sebelom bayar, saya tanya dong ke supir travel, “ini Moni pak?” Supir travel jawab “Iya! Ini Moni” Ternyata Moni emang semacam desa yang kecil banget di deket Kelimutu. Gara gara saya datengnya malem- malem pas listrik mati rasanya kaya diturunin di tempat antah berantah. Habis bayar travel, saya langsung cari tempat nginep dan tanpa milih-milih saya langsung okay ke tempat pertama yang saya temukan. Gara-gara mabok naik travel parah, all I wanted to do was to find a place to sleep! That’s it. Besok kalau naik travel pilih-pilih deh!

Hari ke 5 – “Pagi di Kelimutu dan ditinggal bus di Maumere”
Hari ini rencananya saya mau ke Danau Kelimutu. Kata Billy yang punya peningapan, paling bagus ke Kelimutu untuk lihat sunrise. Ternyata kalau mau lihat sunrise kita harus sudah siap cabut dari penginapan jam 4 pagi the latest. Soalnya dari penginapan di Moni butuh 30 menit naik bukit pakai motor lalu 30 menit jalan kaki dari parker ke puncak Kelimutu. Pas banget, kebetulan saya mau bikin time lapse vide sunrise di kelimutu. Bair gak telat saya pasang alarm deh. Udah kebiasaan pasang alarm continuously biar kalau gagal bangun di alarm pertama bias bangun di alarm berikutnya. Saya setting jam 3:00, 3:30, 4:00. Saya piker “aman deh! Pasti bangun. Tapi ternyata saya NGGAK BANGUN. Saya akhirya bangun jam4:30 AM itupun karena diketok ojek yang harusnya mengantar saya ke atas. Saya langsung heboh siap-siap dan cabut. Oh ya kalau mau ke Kelimutu, bawa wind breaker atau at least jaket. Saya cuma bawa t shirt jadinya kedingingan naik ke kelimutu. 30 menit setelah perjalanan yang ditempuh pakai motor saya tiba di tempat pembayaran tiket masuk. 1 orang :Rp 5000,- plus bayar ojeknya Rp 5000,- setelah bayar kita langsung parker motor dan saya berjalan sendiri ke kawah Kelimutu. Ojek saya nungguin di tempat parkir sampai saya selesai. Jalan dari tempat parkir ke Kelimutu nggak begitu jauh. Cuma harus naik tangga banyak. Setelah ngos ngosan jalan sampai view area akhirnya saya sampai. Disana udah banyak pengunjung yang foto-foto dan nungguin sunrise. Pas waktu itu kebanyakan pengunjungnya bule-bule sih, pas mengisi buku tamu pun daftar nama yang sudah ada di atas saya pun kebanyakan bule-bule. Pemandangan Kelimutu saat sunrise is incredibly stunning. I was so surprise. Berhubung saya harus ke Larantuka hari ini juga, sekitar jam 8 pagi saya turun dari Kelimutu lalu siap-siap. Awalnya saya mau naik travel sama pas waktu dari Ende ke Moni, tapi kemaren pas naik traval dan udah duduk paling depan pun masih mabok, pasti kalau nunguin travel yang udah hamper penuh dari Ende dapetnya tempat duduk paling belakang. Ogah ah. Kebetulan saudara Billy, Om Robert namanya emang ada rencana ke Maumere (untuk ke Larantuka memang harus lewat Maumere) Jadi deh bareng Om Robert sampai Maumere lalu lanjut bus (yang di maksud bus di daerah ini adalah microbus, nothing like those giant buses I have in mind). Perjalanan dari Moni ke Maumere makan waktu sekitar 3 jam dan juga penuh liku liku, saya sampai harus minum 2 tablet antimo. Setelah sampai Maumere saya diturunkan di pertokoan sekitar pasar untuk lanjut dengan bus berikutnya. Ada bus namanya “bus manggis” yang akan segera berangkat ke Maumere. Tarifnya Rp 60,000. Setelah ok, backpack saya digotong masuk ke bus dan saya bilang saya mau ke toilet sebentar, jadi tolong ditunggu. Setelah mereka bilang okay, saya menuju fast food restaurant yang ada di dekat tempat bus parkir untuk numpang ke toilet. Setelah masuk saya noleh ke belakang dan bus saya tadi jalan dengan backpack saya di dalamnya…….

F***!!
Langsung aja saya keluar resto dan teriak; PAK SAYA JANGAN DITINGGAL!!!! TAS SAYA MASIH DI DALAM!!

Abis itu ada beberapa orang datang yang ternyata supir bus dan tukang ojek temennya. Mereka coba ngeyakinin saya kalau bus nya itu nggak pergi tapi muter balik ke pasar untuk ambil barang. Setengah percaya apa nggak, saya udah lemes. Tukang ojek temen om supir nawarin saya ke tempat bus ngetem. Berhubung saya mau ke toilet saya bilang okay. Akhirnya saya naik ojek ke pasar dan bus yang tadi ninggalin saya ternyata emang bener ngetem di sekitar pasar. Gak mau di bikin panik lagi saya ambil deh bacakpack saya dan cari toilet di pasar.Habis dari toilet saya naik ojek ketempat bus ngetem dan nunggu bus manggis berangkat ke Larantuka. 10 menitan kemudian bus berangkat. Jalanan dari Maumere ke Larantuka untungnya nggak penuh liku-liku seperti antara Ende dan Maumere. Selama 3 jam perjalanan om supir masang lagu keras-keras. Berhubung pas naik travel dari Ende ke Moni juga begitu, saya simpulin kalau udah culture disini kalau harus masang lagu keras-keras di angkutan umum. They also have a very random playlist ever. Mulai dari lagu-lagu Ambon (yang ternyata terkenal di Flores) lagu-lagu country macam Keith Urban, Dixie Chicks sampai JLO hahaha. Sampai di Larantuka temen saya ngejemput. Kebetulan temen saya ini kerja di LSM dan dia in charge di daerah Larantuka. Kotanya sendiri nggak terlalu besar. Objek wisata nya pantai kali ya. Anyway I did not really get any chance to wander around the town. Temen saya yang udah tinggal 1 tahun an disini bilang variasi makanan nya pun nggak banyak. Kalau mau makan di luar variasinya; Ayam Bakar, Babi Guling atau kaki lima di taman kota.
Malam itu saya nginep di Larantuka.

Hari ke 6 – “Dari Desa ke Desa”
Berhubung hari ini masih hari Jumat, temen saya masih harus kerja. Sabtu – Minggu rencananya mau ke Maumere. Temen saya kerja di LSM dan hari ini agenda nya ke beberapa desa di dekat perbatasan Maumere dan Larantuka.
Jadi saya ikut dia kerja seharian sekalian pulang nya langsung ke Maumere.
Desa-desanya kasihan, jalanannya belum di aspal dan listrik belum masuk.
Hari itu kebetulan ada wawancara di salah satu desa dan saya jadi bias observasi desa itu. Nama desa nya “desa adabang”. Belum ada listrik dan penduduknya hidup sederhana. Saya sendiri bukan orang kota tapi setelah ke desa ini jadi ngerasa kalau Madiun (tempat asal saya) itu kota banget! Wawancaranya sendiri berlangsung seharian, semua urusan selesai sekitar jam 6 sore. Setelah bye bye dengan penduduk desa yang super ramah kita ngelanjutin perjalanan ke Maumere lewat jalan alternatif. Kata penduduk desa kalau lewat jalan ini bakal lebih cepet sampai Maumere dan jalannya relative aman. Kita percaya aja. FYI kalau jalan ke desa ini yang kita ambil tadi pagi adalah jalan yangtidak beraspal, terjal. Ternyata jalan cepat ke Maumere yang penduduk desa tadi bilang lebih parah… Mereka tidak bilang kalau ada beberapa kubangan dan pohon pohon tumbang.. Alhasil supir kita harus beberapa kali berhenti buat minggirin pohon tumbang. Untung bisa di pinggirin tanpa harus diparit. Selama perjalanan ke Maumere lewat jalur alternatif kita lewat beberapa desa yang mana listrik belum masuk. Jadinya sepanjang malam gelap gulita. Kita sampai Maumere sekitar jam 9 malam, cari makan sebentar lalu cari hotel. Supir kita ngerekomendasikan “sea world” resort yang ternyata okay banget. Modelnya kita sewa bungalow dan pas ada di depan pantai. So it’s like we’re getting our own private beach. We are settled for the next two nights!.

Hari ke 7 – “Maumere”

Berhubung temen temen saya pada tepar setelah kerja dari Senin sampai Jumat, dan hari ini kebetulan hari Sabtu, we decided to take it easy this weekend. Kita bangun agak siang, dan makan brunch sebelum keluar. Yang kita suka dari #sea world” resort, menu breakfast mereka cukup variatif dan sebagain besar bahan bahannya home made atau barang-barang lokal Flores. Segala macam selai dan roti mereka “home made” ada madu hutan flores dan fresh made mango juice. Kita juga bisa order nasi goreng, scrambled eggs ataupun banana pancake.
Well enough brag about the breakfast, let’s get down to the plan for today.
Mengunjungi desa (kerjaan teman) lalu snorkeling dan balik ke kota for dinner.
Desa yang kita kunjungi nggak kalah kasihan dengan hari sebelumnya. Waktu saya tanya ke temen saya itu kenapa desanya terpencil semua, dia jawab “ya iyalah semua desa yang gua dampingin terpencil. Kan gua kerjanya di LSM kalau desa desa disini maju semua gak usah repot repot LSM bikin kantor di daerah ini!”. Saya piker iya juga ya. Saya udah sering denger soal kerja LSM sih, tapi baru pertama kali ini saya benar benar ngerasaini gimana daily job seorang social worker and it’s not easy! These social workers really commited to their jobs.
Setelah sampai desa ini, saya ngikutin temen cari orang yang mau dia temuin. Sayangnya orangnnya gak ada! Udah jauh jauh kemari saya ng juga sih. Akhirnya kita titip pesan bahwa kita akan ke desa ini lagi hari berikutnya. Agenda berikutnya; snorkeling!. Pas keluar desa cuacanya mulai mendung dan ombak di laut pun jadi besar. Kita cari kapal yang mau bawa kita snorkeling di Pulau Babi. Setelah perjalanan yang makan waktu sekitar 1 jam an dari desa tadi kita berhenti di daerah Nagahale untuk mulai berlayar. Setelah berheti di daerah tambata kapal dan mulai nawar kapal. Baru mulai turun, atmosfir mau hujan dan ombak keras udah kerasa. Hmmm kita bertiga jadi bimbang deh. Setelah piker dua kali kita putuskan untuk cancel sampai hari berikutnya. Ok then no snorkeling for today. Setelah itu kita kembali ke Kota untuk makan.
Setelah makan nggak tau kenapa saya kena cegukan yang gak ber henti-henti. Don’t laugh! Saya serius. KArena saking lamina cegukan saya sampai pusing. Is it even possible to get dizzy from hiccups? Well it happened to me!.
Karena pusing yang berkepanjangan akhirnya kita pulang ke hotel dan saya langsung tepar.

Hari ke-8 “Maumere Hari Terakhir”

Gara-gara pusing dari cegukan saya tadi malam tidur 12 jam. Untungya pagi ini udah sembuh pusingnya. Berhubung hari ini hari Minggu, kedua teman saya harus pergi ke gereja. Jadi sekalian nunggu mereka di gereja saya berenang di pantai. Depan bungalow. Setelah check out kita ke desa adat Watublapi untuk lihat kain tenun khas Maumere. Sebenarnya kalau mau beli kain tenun di pasar bisa juga, cuma yang di desa adat ini kainnya organik, kualiatasnya pun lebih bagus, jadi harganya emang beda jauh daripada di pasar. Kalau di pasar rata-rata harga kain sekitar 300K disini paling nggak sekitar 1,5 Juta. Temen saya mau beli jadi dia sibuk pilih-pilih kain yang di display di ruangan outdoor khusus untuk kita. Akhirnya setelah dapet kita minta nenek nenek pengrajinnya untuk ajarin kita tarian Maumere sebelom balik. Eh dianya mau hahaha jadi heboh nari pakai kain tenun.

Setelah ini kita balik lagi ke kota buat makan siang sekalian ke pasar karena saya mau beli kain tenun yang agak murah. Kain tenun yang saya beli di pasar harganya 350K ya not bad lah berhubung mereka juga bikinnya susah payah. Setelah dapat kain kita balik ke desa pinggir pantai yang kemaren singgah cuma nggak ketemu bapak nelayannya. My friend needs to see him badly before she leaves for Larantuka! Kali ini kita ketemu bapak nelayan itu dan ngobrol sekitar 1 jam an. Setelah selesai temen saya bantuin cari hotel deket bandara Maumere karena pesawat saya balik ke Madiun besok pagi-pagi buta dan merekapun harus balik ke Larantuka.

CARA APLIKASI BEBAS VISA JEPANG DI KONSULAT JENDERAL JEPANG SURABAYA

CARA APLIKASI BEBAS VISA JEPANG DI KONSULAT JENDERAL JEPANG SURABAYA

Udah pada tau belum kalau mulai Desember 2014, warga negara Indonesia dibebaskan visa untuk ke Jepang. What a good timing! Pas banget walaupun udah nggak tinggal dan kerja di Jepang masih bisa balik untuk main atau jalan-jalan seenak jidat tanpa harus pusing ngurusin visa. Eits tapi bebas bisa ini hanya untuk kunjungan singkat ya, nggak berlaku untuk yang mau kerja atau tinggal lebih dari 15 hari di Jepang.

Siapa yang bisa daftar:

Warga Negara Indonesia pemegang IC passport/e-paspor (paspor dengan logo chip di bagian sampul depan) sesuai standar ICAO (International Civil Aviation Organization), melakukan registrasi e-paspor di Kantor Perwakilan Negara Jepang (Kedutaan Besar Jepang/Konsulat Jenderal Jepang/Kantor Konsulat Jepang) di Indonesia sebelum keberangkatan. Karena KTP saya KTP Madiun, jadi wilayah teritori konjen Jepang di Surabaya. Jadi saya cuma bisa apply di Konjen Surabaya. Sebelum daftar pastikan dulu KTP anda masuk teritori kedutaan Besar Jepang di Jakarta atau Konjen Jepang di Surabaya.

Ketentuan bebas visa:

Tujuan Perjalanan    :           kunjungan singkat (wisata, bisnis, kunjungan keluarga, kunjungan teman, atau kunjungan singkat lainnya)

Durasi masa tinggal  :           15 hari

Masa berlaku            :           3 tahun atau sampai batas akhir berlaku paspor (bila masa berlaku paspor kurang dari 3 tahun. Mengikuti masa berlaku terpendek.)

Biaya                           :           gratis

Proses Registrasi       :           2 hari kerja (hasil proses diserahkan hari berikutnya)

Cara Registrasi:

(1)                 Pemohon atau perwakilan pemohon membawa e-paspor dan formulir aplikasi (formulir terlampir: PDF atau DOC) ke Kantor Kedutaan Besar Jepang/Konsulat Jenderal/Kantor Konsulat di Indonesia untuk diregistrasi.

(2)                 Kedutaan/Konsulat Jenderal/Kantor Konsulat akan menerima berkas permohonan, melakukan proses registrasi, menempelkan sticker bebas VISA, dan menyerahkannya pada pemohon kembali.

(3)                 Yang bersangkutan dapat melakukan perjalanan ke Jepang untuk durasi tinggal maksimal 15 hari, berkali-kali hingga masa berlaku sticker tersebut habis, tanpa perlu melakukan registrasi lagi di tiap kali perjalanan.

(4)                 Bagi pemohon Bebas VISA yang tidak dikabulkan permohonannya, harus melakukan permohonan VISA seperti biasa.

Pengalaman daftar aplikasi bebas visa Jepang di Konjen Jepang di Surabaya

Prosesnya super gampang dan nggak pakai bertele-tele. E paspor sya yang baru jadi saya bawa ke konjen disertai dengan formulir pendaftaran. Pendaftaran bebas visa ini nggak perlu appointment. Jadi tinggal dating dan bawa persyaratan dokumen lalu serahin ke petugas konjen. Walaupun nggak pakai appointment harap diperhatikan kalau aplikasi hanya diterima konjen Jepang di Surabaya dari jam buka 08:15 sampai sebelum istirahat siang (kalau nggak salah jam 11:00. Jadi Jangan sampai kesiangan juga. Saya tinggal di Madiun jadi dibela belain berngkat naik kereta subuh biar bisa sampai konjen Jepang di Surbaya yang terletak di Jalan Sumatra (daerah Gubeng). Kenapa naik kereta? Karena stasiun kereta Gubeng itu satu daerah dengan Konjen Jepang. Kalau naik bus repot. Terminal bus Waru tuh lumayan jauh dari Gubeng. Kalau nggak macet butuh waktu 30 menit dari Waru ke Gubeng.

Saya sampai Surabaya jam 7:45 an. Langsung naik taksi ke Konjen Jepang dan sampai sana jam 08:00. Karena Konjen baru buka jam 08:15 saya tunggu di luar gerbang sampai boleh masuk. Walaupun pas apply itu hari Senin, konjennya sepi banget. Cuma ada 3 orang an yang antri. Saya juga akhirnya dapet nomor urut 1. Nggak sampai 5 menit dari ambil nomor udah dipanggil, saya kasih dokumen lalu beres. Madiun – Surabaya butuh waktu 3 jam tapi urusan di konjen-nya selesai dalam waktu 5 menit. Sebelum pergi saya dibilangin untuk balik keesokan harinya untuk ambil paspor yang sudah ter-registrasi.

Hari berikutnya saya berangkat ke Surabaya lagi untuk ambil paspor. Pengambilan paspor juga ada waktunya. Setalah makan siang (kalau nggak salah dari jam 13:30 sampai jam 15:00). Karena saya dating kecepetan akhirnya saya tunggu sampai jam makan siang selesai di café pojokan di sekitar jalan Sumatra. Pas udah jam buka konjen saya daftarin diri lagi ke sekuriti. Kali ini konjen nya lebih sepi dari kemaren. Setelah daftarin diri, masuk ke dalam dan ambil no antri saya duduk di ruang tunggu. Nggak sampai 5 menit dipanggil dan langsung dapet paspor yang udah ter-registrasi. Saya tanda tangan tanda terima terus cabut. Cepet abis, nggak pakai lama.

Buat yang mau daftar, tenang aja. Prosesnya gampang, simple dan cepet.

Good luck registrating guys!

Informasi tambahan:

Stasiun Gubeng – Konjen Jepang di Surabaya

  • Taksi

Kalau naik taksi argo atau taksi gelap stasiun mereka minimal minta 25,000 rupiah. Kalau naik kendaraan paling sampai kurang dari 10 menit.

  • Ojek

Hmmmm pas nawar mereka minta 25,000 rupiah but I didn’t even bother karena taksi aja mau 25,000 rupiah. Coba tawar lagi aja.

  • Jalan kaki

Kalau nggak males jalan kaki, mendingan jalan deh. Jalan kai dari stasiun sampai ke konjen Jepang makan waktu sekitar 20 menitan.

Tempat tunggu:

Stasiun Gubeng lumayan rame dan ngga bisa buat nunggu secara nyaman.

Di sekitar konjen Jepang juga isinya cuma rumah-rumah jadi susah juga sih. Kalau mau jalan sedikit, di ujung jalan Sumatra (agak jauh dari Konjen Jepang) ada beberapa café yang bisa buat tempat tunggu sembari kerja atau nyantai.

Aplikasi E Paspor di Imigrasi Surabaya

Aplikasi E Paspor di Imigrasi Surabaya

Berhubung paspor saya masa berlakunya akan segera habis, baru-baru ini saya apply paspor baru ke kantor imigrasi. Setelah cari tahu sana-sini saya putuskan untuk apply e-paspor.

Apa itu e-paspor

E-paspor atau paspor elektronik adalah paspor yang memiliki chip yang dapat dibaca auto gate sebagian bandara sehingga kita nggak usah antri lagi di loket.

Keuntungan e-paspor

  • Pemengang e-paspor bisa pakai fasilitas auto-gate di beberapa bandara
  • Mulai Desember 2014, pemerintah Jepang membebaskan peraturan turis visa untuk warga Negara Indonesia dengan catatan, paspor yang dimiliki adalah e-paspor (bukan paspor biasa). Peraturan bebas visa turis ini bisa dinikmati oleh pemegang e-paspor yang sudah mendaftarkan paspornya ke kedutaan/ konsulat Jepang sebelum keberangkatan ke Jepang.

Prosedur aplikasi

Prosedur aplikasi bisa dilihat langsund di link Dirjen imigrasi di bawah ini:

http://www.imigrasi.go.id/index.php/en/layanan-publik/paspor-biasa#prosedur

Sebenernya, yang mau saya ceritain di blog kali ini adalah pengalaman saya pribadi apply e-paspor di kantor imigrasi kelas 1 Waru Surabaya. Alasan saya pilih apply e paspor adalah untuk dapet bebas visa ke Jepang. Apply e-paspor untuk saya yang tinggal di Madiun emang rada repot karena sampai saat ini hanya kantor imigrasi tertentu yang bisa mengeluarkan e paspor. Kalau untuk Madiun yang paling deket adalah kantor imigrasi kelas 1Waru (Surabaya). Mau nggak mau harus ke Surabaya deh. Seperti di link yang saya attached diatas, aplikasi e paspor bisa dilakukan online. Saya pun akhirnya beresin semua masalah administrasi (pembayaran dan lain-lain) sebelum berangkat ke Surabaya. Prosesnya cepet dan nggak ribet. Tinggal transfer duit lewat bank BNI beres deh.

Pada hari H saya berangkat ke Surabaya subuh-subuh biar nggak terlalu siang sampai ke kantor imigrasi. Apalagi kemaren pas hari Senin. Saya sampai kantor imigrasi sekitar jam 9 pagi. Ternyata jam 9 pagi udah penuh orang. Mana tempat pelayanan kantor imigrasi sedang di renovasi. Jadi makin ribet suasana ruang pelayanannya. Setau saya di dalam ruang pelayanan ada dua antrian. Antrian untuk pendaftar yang belum registrasi online dan pendaftar yang sudah regsitrasi dan melakukan pembayaran online. Jadi begitu sampai saya langsung ambil nomor dan tunggu sampai dipanggil. Kata orang-orang walaupun udah daftar online kalau orangnya lagi banyak bisa bisa nunggu seharian sampai dipanggil. Karena kemaren emang suasanya sangat ruwet, udah pasrah aja deh nunggu seharian. Surprise…surprise.. ternyata nggak sampai 1 jam nungguin saya udah dipanggil untuk cek dokumen (walaupun orangnya banyak banget). Pas dipanggil saya serahkan dokumen persyaratan lalu kembali duduk sampai tunggu giliran dipanggil lagi untuk wawancara singkat dan pengambilan foto. Ngga lama kemudian saya udah dipanggil lagi. Lumayan cepet dan teratur. Mungkin yang bikin ruwet kantornya lagi di renovasi kali ya. Pelayanannya sendiri udah lumayan kok. Cuma mesin tiket antriannya aja kadang kadang lemot. Masa nomor yang tertera di layar sama yang dipanggil kadang kadang nggak singkron. Jadi kita-kita yang apply ini tiap kali denger ada nomor yang dipanggil tapi nggak singkron sama display nomornya jadi kebingungan.

Kalau dihitung hitung, saya ngabisin waku sekitar 2 jam di kantor imigrasi. Well berhubung orangnya banyak bisa dimengerti lah. Sekitar jam 11 saya udah cabut dari kantor imigrasi dan dibilangin kalau paspornya akan jadi 5 hari kemudian.

Karena kemaren lama di Jepang, saya sempet pesimis soal efisiensi institusi pemerintah. Emang ngga ada yang sempurna, cuma pengalaman apply e paspor di kantor imigrasi kelas 1 Waru Surabaya cukup efisien dan cepet. Semoga renovasinya cepet selesai jadi bisa melayani masyarakat lebih efisien dan para petugas nya pun nggak stress dengan kantor yang selalu penuh orang.